Jl Pos No 2 Jakarta Pusat (021)3840915 admin@sma.santaursulajakarta.sch.id Senin - Jumat : 07.00 WIB - 14.00 WIB Sabtu : 07.00 WIB - 11.30 WIB

Dalam rangka 160 tahun Santa Ursula pada tahun 2019, saya sungguh bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala bimbingan-Nya. Saya sudah pensiun sejak tahun 2016, namun oleh Yayasan sampai sekarang ini masih diminta mengajar di SMA Santa Ursula. Selanjutnya, saya menuliskan kembali kesaksian saya sebagai pendidik di SMA Santa Ursula yang pernah dimuat di majalah Utusan Nomor 02, Tahun Ke -56, Februari 2006 halaman 14.

Jakarta, Rabu 26 Oktober 2011, pagi hari.

 

Perjalanan dari rumah menuju sekolah Santa Ursula untuk melihat pengumuman Penerimaan Siswi Baru SMP Santa Ursula terasa begitu lama dan melelahkan, selain karena jalanan yang padat juga karena hati dan pikiran saya sangat merasa kuatir, takut kalau Steffi tidak diterima di SMP Santa Ursula. Apalagi kalau mengingat bahwa Steffi bukan berasal dari SD Santa Ursula. Jadi, di sepanjang perjalanan, saya terus berdoa kepada Tuhan

Perjalanan ribuan mil selalu bermula dari setapak dua tapak langkah, begitulah pepatah Cina dari Lao Tzu. Perjalanan saya bersekolah di Santa Ursula dimulai sejak saya SMP, yaitu sekitar tahun 1998. Masih hangat-hangatnya dalam ingatan saya pengalaman kerusuhan berbasis SARA (Suku, Ras dan Agama) pada tahun yang sama. Seorang Fransisca Indraswari yang masih berumur 12 tahun, menjejakkan kakinya di hari pertama dia sekolah, merasa gugup, dan tak menentu dengan hari-hari yang akan ia jalani di sana. Di kanan dan kiri kulihat rok kotak-kotak yang panjang, pohon-pohon yang rindang, namun sepertinya agak “gersang” tanpa pejantan. Pelan-pelan saya mulai terbiasa dengan Santa Ursula yang terkenal dengan kedisiplinan dan prestasi akademiknya. Tak jarang saya harus terus menerus merapikan pakaian, memonitor panjangnya rambut dan kuku supaya tidak di-razia, karena rambut panjang terurai dan kuku panjang ala mak lampir adalah haram hukumnya. Rasanya memang kedisiplinan itu berat, tetapi bukankah “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Ibr 12:6).”

Santa Ursula, salah satu sekolah Katolik tertua di Jakarta. Lantas, bangunan ini masih berdiri tegap dan gagah. Coba saja kau tebak berapa umur bangunan ini? Tak banyak yang mengetahui bahwa bangunan ini sudah berusia 160 tahun. Aku pribadi di sini, hanyalah berperan sebagai pelajar baru di lingkungan yang mungkin sudah kukenal, tetapi belum secara mendalam. Baiklah, akan kumulai ceritaku.